Sabtu, 17 November 2012

Berdamai atau bertengkar Jan 13, '11 12:03 AM

Menghabiskan waktu bersama di kecil, terkadang membutuhkan taktik dan cara jitu agar kehidupan berjalan damai dan aman. Sejak aku memutuskan berhenti bekerja, dan akhir-akhir ini kembali meluruskan niatku untuk anak-anak, maka nyaris seluruh waktuku memang bersama mereka, dan terutama adalah si bontot.

Sementara kakak-kakaknya sekolah, maka otomatis di rumah hanya ada dan dia , bocah 3,5 tahun yang Alhamdulillah diberi daya bicara yang ramai dan tingkat kritisi yang tinggi.  Menghadapi anak sejenis Fadhl, hmm susah-susah gampang, tapi sebagai ibu, ya tentu saja insting untuk menguasai anak bisa dilakukan dengan menurunkan tingkat emosi dan meningkatkan rasa sabar.

Sebetulnya, kalau mau dibuat kesal ya kadang kesal juga, ada kalanya dia tidak bisa diajak kompromi untuk sekedar mengijinkan aku ke kamar mandi, maunya nempeeeellll terus. Dan kalau kondisi ku sedang ga mood, ya bawaannya kesal dan cuekin dia, berakhir dengan tangisan dan aku yang mencoba nutup telinga. 
Namun ada kalanya pula, dia bersikap sangat manis, dan mengerti daftar pekerjaan yang harus aku kerjakan, dia akan bermain dengan mainan ala kadarnya , tanpa teriak, tanpa ikut campur, dan dunia berjalan sangat amat damai. Kalau udah begini, wah seneng banget, aku bisa lebih cepat menyelesaikan pekerjaan rumah.

Negosiasi, kadang pula harus dilakukan, tatkala aku harus segera menyelesaikan pekerjaan, sementara dia tidak mau bermain sendiri. Bicara dari hati ke hati, menerangkan bahwa ibu harus ini itu, dia masih ngeyel mau ama ibunya, lalu ibu nya menawarkan alternatif kegiatan yang bisa dia lakukan, lalu dia berfikir, dan akhirnya selesai... ibu bisa kerja, dan dia main ...

Nah yang sering sih, pertama dia akan anteng bermain, lalu ditengah pekerjaan kita, dia menghampiri dan mulai bertingkah seolah mencari perhatian. Kondisi badan yang lelah, diburu oleh harus menyelesaikan segera untuk berlanjut ke pekerjaan berikutnya, ditambah dengan kehadiran si kecil dengan beragam tingkahnya, cukup dan sangat memancing emosi. Kegiatan yang biasanya bisa dilakukan sendiri oleh dia, tiba-tiba harus kita yang melakukannya, sementara tangan kita bersimbah busa, atau berbau bawang, mau marah ? sepertinya itu jalan singkat ...namun ternyata itu tidak juga menjadi penyelesaian masalah.

Lihat saja kondisi ini, aku sedang sibuk mencuci, lantai belakang penuh air dan busa, tiba-tiba si kecil datang hanya untuk sekedar minta aku dibukakan tutup kaleng makanan, oke dibantu... lalu aku suruh kembali dia kedalam untuk bermain lagi. Tidak lama, dia kembali lagi, minta ini, minta itu, mau pipis, mau pup, mau minum, sementara aku cape juga untuk bolak balik ke dalam dan melayani permintaan dia yang sebetulnya bisa dilakukan sendiri. 
Jujur, tidak jarang aku akhirnya berteriak, menginstruksikan sesuatu dengan tujuan supaya dia tidak kebelakang dan menggerecokiku, namun kembali dan kembali dia bertingkah untuk sekedar kembali memancing emosiku.

Lalu aku berpikir, jika aku layani dengan marah, dan akhinya bertengkar dan akan ditutupi dengan tangisan,  hal ini tidak akan menyelesaikan masalah, hanya akan menambah lembar kekesalan anak kepada ibunya.Aku sadar, yang dicari dia adalah perhatian, dan melawan tingkahnya dengan penolakan akan tetap memakan waktu. Akhirnya, aku stop smua kegiatan, aku peluk dia, dan aku masuk kedalam, berganti pakaian, dan menemani dia sejenak dengan apa maunya dia. Ya, aku memilih berdamai dengan dia.

cara ini aku rasa lebih  efektif, dunia terasa aman, walau pekerjaanku jadi terbengkalai. Aku bereskan semua kemauan dia, lalu aku tenangkan dia, bicara dari hati ke hati, memberinya kegiatan dan permainan bersama, unutk kemudian, aku kembali meminta ijin darinya untuk kembali bekerja. Dan dia akan dengan senang hati mengijinkan, tanpa penolakan dan tanpa kekesalan. Amannn....

Amarah dan kekesalan tidak akan menyelesaikan masalah, anak hanya akan bertambah kesal, karena pada dasarnya yang mereka butuhkan hanyalah perhatian. Kemana dirimu condong , ke cucian atau kepada dirinya. Jika lebih memilih pekerjaan dan akan beragumen keras kepada anak, maka kekecewaan yang akan di dapatnya, dia tetap tidak akan menerima, tetap akan bertingkah, terus membuat kekesalan ibu akan terus dan terus yang tidak jarang berakhir pada pertengkaran dan teriakan. 
Namun jika dirimu memilih untuk berdamai, mereka akan memperoleh rasa percaya, mereka yakin bahwa ibu nya masih memikirkannya, menempatkan dirinya pada posisi yang penting dan bukan hanya sekedar instruksi dan argumentasi. Nilai cinta yang akan dirimu dapatkan.

Kehidupan mengurus, selalu beraneka, dan disetiap aneka itu, kita tetap harus belajar dan belajar, mencari yang terbaik untuk nya dan untuk kita.. tanpa menyakiti, mencoba menjalin tali kepercayaan dan kedamaian ....

Selamat berpetualang bersama anak2 anda....


[Celoteh Anak] Interogasi yang sadis Dec 5, '10 10:22 PM

·         :  
Kami sebetulnya tidak pernah mengira, bila si bontot kami ini ternyata tipe yang rame sekali. Berucap, bertindak, bergerak, dengan tanpa diduga. Apa yang diucapkan selalu beragam, serius, canda, sedih, senang, ngotot, lebay sampai kepura-puraan. Terkadang kami terkecoh dengan apa yang ada di pikirannya, tidak menduga bahwa apa yang dilakukan dan diucapkan memiliki maksud seperti yang ada di kepalanya.

Celotehannya selalu membuat takjub dan tak jarang kami orangtuanya berada dalam posisi menyerah… pasrah dengan apa yang dia ucapkan dan dilakukan. Coba saja simak dialog interogasi dan negosiasi yang mampu membuat diriku terpojok…  hmm

“Bunda dari mana” kalimat pertama dari Fadhl saat aku pulang malam itu.
“Dari Jakarta, ada perlu sama temen ibu”
“Temen ibu yang mana?”
“Tante Dian, tante Ima, tante Nat”
“Kok aku ga tau ama teman ibu yang itu”

Hadoohhh anak 3 tahun masa mau dikasih tau satu persatu nama temen ibunya sih…

“iya dek, ini teman ibu di MP, tante Ima masakin soto Banjar untuk ibu dan teman-teman” ucapku memberi alasan
“Kenapa ade ga diajak ?
“Ibu kan naik kendaraan umum, repot bawa ade”
“Emangnya ibu repot ngajak ade?”

Nah loh… mulai berasa salah deh…

“hmmm, ya kan ade ga suka naik bis, dulu ibu ajak, adenya marah”
“tapi ibu kan belum nanya ama ade, apa ade mau atau enggak diajak”

Hadduuhh de.. kok jadi ibu yang salah terus sih

“Iya, tadi kan ibu udah bilang, ibu mau pergi, dan ade ijinin ibu”
“tapi kan tadi ibu bilangnya ke kantor, dan ibu ga nawarin ade buat ikut tuh”

Berasa pengen ngedekep deh nih bocah 3 tahun… bakat cerewetnya turunan siapa ya, aku pendiam, bapaknya sih kayaknya…

“Iya dek, ibu ga mungkin bawa kamu, ibu kan mau ketemu ama temen temen ibu”
“iya, ade tau, tapi kenapa bilangnya ke kantor, kalo ibu bilang mau ketemu temen ibu, kan ade mau ikut”

Nah ini dia de masalahnya, ibu ga pengen kamu ikut, jadi ibu terpaksa bohong.. haduuh, gini deh rasanya bersalah karena udah bohong, serasa ditelanjangi euy..
“Ga mungkin ibu bawa kamu de, jauh banget, ibu harus naik kendaraan tiga kali, bus ama angkot ama ojek, kamu pasti cape kalau ikut”
“jadi ibu bohongin ade?”

Hiks, sedih bener deh dituduh berbohong, padahal mah bener…

“iya de, maafin ibu ya, tapi ibu kan memang ada perlu, dan ga boleh bawa anak kecil”

Opppsss…. Kok aku bohong lagi sih, kan Dian, sang tuan rumah,  ga ngelarang aku bawa Fadhl.

“eh maksud ibu, ibu ga tega bawa ade, ade akan lelah dan ibu repot”
“ade sebel ama ibu”
“Maafin ibu deh, nanti ibu ga akan bohong lagi ama ade, janji…” aku mendekatinya, berusaha memeluknya.

Fadhl diam, memalingkan wajah disertai mulut monyong ciri khas nya saat ngambek.

“Ade, kan kalau ada yang minta maaf, harus di maafkan, kok ade masih diam?”  aku berusaha merayu dia.

Tetap diam, dan memalingkan wajahnya… wah kalo gini bisa jadi seru nih, tinggal teknik merayunya saja…

“de, ibu bawa oleh-oleh loh buat ade” ucapku sambil mengeluarkan pisang goreng yang sengaja aku beli sebelum perjalanan pulang.

Dia masih diam, tapi matanya mulai melirik ke arah ku dan pisang goreng.

“Bener nih ade ga mau? “ aku mulai menarik bungkusan isi pisang itu agar terkesan aku menyerah, pengen liat aja reaksinya.

“ya udah sini pisangnya, kalau udah ngasih, jangan diambil lagi dong bu….” Fadhl tersenyum lebar sambil  mengambil kantong itu, berlalu dan duduk tenang mendekap pisang goreng kesukaannya…

NAH LOHHH !!!! &^%$$&**(
=====
Word Count : 566 including title 

Gendong Tangan Oct 24, '10 10:11 AM

Sabtu kemarin ada pertemuan orangtua murid di sekolah anak2, karena sekalian ingin ke Jakarta, semua anak2 aku bawa. Saat aku berada di kelas , anak2 bermain di lapangan sekolah, dan diawasi oleh putri.
Selesai aku ambil hasil midtest Putri dan Ghifari, terdengar jeritan Fadhl, keras sekali, aku langsung berlari mencari Fadhl. Gak lama terlihat Putri menggendong Fadhl yang menangis sangat kencang, langsung aku ambil dan gendong dia. Tanya sebentar ke Putri kenapa adiknya menangis, ternyata Fadhl jatuh dengan posisi tangan menumpu tubuhnya. Okelah, aku ga interogasi lanjut dan konsentrasi ke tangisan Fadhl yang semakin keras. 
Masuk mobil, tangisan terus berlanjut, aku berusaha pegang tangannya yang sakit, semakin menjerit, pelan2 aku angkat tangan nya, semakin menangis. Wah langsung deg2an, tangisannya tidak biasa, benar2 tangis kesakitan, beda dengan saat dia jatuh dari tempat tidur kemarin, yang 5 menit tangis nya sudah reda, sekarang tangisnya terus menerus dan benar2 tangis kesakitan.

Terus berusaha menenangkan dia, pelan pelan aku berusaha sentuh lagi tangan kirinya yang sakit, kembali menjerit, sentuh jarinya, tidak reaksi, pelan2 aku pindah ke posisi sikunya, aku pegang pelan, dan tangisannya kembali kencang, ini sakit beneran...  Aku takut, terus terang takut sekali, tanya ama suami harus gimana, dia menyerahkan kepadaku, karena biasanya untuk kasus kecelakaan begini aku yang tau apa yang terbaik untuk anakku.
"Gimana perasaan kamu, kamu yakin ga dia ga kenapa2"  
Aku tidak jelas dengan perasaanku, tp aku khawatir sekali, kembali aku mengingat guideline jatuh pada anak, curiga pada keretakan atau patah pada tulang, aku sentuh lagi tangannya, kembali teriak.. ya Allah... smoga dia baik2 saja.
"ya pak, kita ke UGD sekarang , aku takut"

DI UGD RS, kecapean nangis, dia tertidur 

Kami langsung ke UGD RS Azra, Alhamdulillah Fadhl sangat cooperatif, tangis nya sudah mulai tenang, dan dia akhirnya tertidur setelah 30 menitan menangis menahan sakit. Dokter langsung memeriksa dan memasang arm sling untuk menyanggah tangan kirinya. Di rontgen untuk meyakinkan tidak ada keretakan tulang. Dan entah kenapa sejak ke RS , dia seolah lupa dengan sakitnya, tangannya sudah mau di gerakkan, dan disentuhpun tidak kesakitan seperti tadi.. aku mulai tenang dan yakin tidak ada apa2 ..
Hasil rontgen bagus, tidak ada kelainan dan keretakan ... Alhamdulillah... hanya memar dan dapat voltaren aja untuk memarnya.

udah di sanggah, masih bisa gaya aja dia

Malam hari dia mulai kesaikitan, walau tidak demam, tapi bengkak mulai terlihat di tangan yang sakit itu. siap2 ngeronda karena Fadhl mulai rewel, ga bisa disentuh atau di goyang tangannya, langsung nangis ... 

Hari Minggu bengkak makin nyata, tangannya semakin sakit, dan karena yakin bukan dari tulang yang retak dan bergeser, aku brani panggil tukang urut langganan yang biasa urut untuk bagian salah urat dsb. Siap siap dengan tangisannya, kita supply permen dan es krim . Nangisnya parah banget sampai aku ikut-ikutan nangis ga tega. Menurut Mang Khotib, memang ada urat yang menggumpal, kemarin ga sakit karena dia menggumpal, saat malam hari tidak ada darah yang mengalir, makanya mulai sakit dan menjadi bengkak. Ya sudahlah, karena memang yakin dengan kebisaaan mang Khotib dalam urusan ngurut beginian, kami yakin aja deh.
Alhamdulillah hari ini walau bengkaknya masih ada, tapi sudah mulai mau tangannya di gerakkan, masih agak sakit, tp tidak sesakit kemarin. Masih di kompres air hangat untuk meredakan bengkaknya.
Biar sakit, yang penting gaya 
Adduuuhh, anak2 beneran deh, udah dijagain , tapi ya kalo dia tiba2 kepeleset dan jatuh kaya gitu mau dibilang apa ... Cobaan kesabaran buat semuanya..

Mudah2an anak2 kita dalam kondisi sehat terus yaaa..

[MomsGoBlogging] Eksplorasi tiada henti Oct 22, '10 7:16 PM


Bila rumah terasa sepi tiba tiba, itu artinya ada sesuatu yang sedang dilakukan Fadhl.
Bila rumah terasa senyap dan tiada tawa, itu artinya ada sesuatu yang tidak biasa.
Coba cek ke kamar, dimana makhluk kecil itu
Cari di ruang tengah, tetap tak tampak tubuh mungilnya.
Rasa hati mulai gelisah, kemana dia, cintaku ...
Kupanggil dia dengan perlahan... Fadhl... Fadhl sayang .. dimana kau ..
Tiada jawaban ... aku beralih ke taman belakang , Fadhl ... ade dimana ?

Kricik kricik ... suara air perlahan terdengar
Ku melangkah ke tempat cucian
Bak besar berisi lelaki kecil 3 tahun , sibuk bermain air sabun
Bersama cucian yang baru saja selesai aku keringkan
Mau marah ?? Tidak mungkin
Melihat ekspresinya memainkan butiran butiran sabun,
Menggericikkan tangannya dalam lapisan air berlapis busa, sebentar dia berujar memainkan peran.
Aku tetap menatapnya , Mainlah nak , carilah makna dari permainanmu, Agar kau tahu makna itu .. Eksplorasi semua mimpi ..

Dilain waktu terpergoklah dia,
Menggoreskan spidol di lantai putih ruang tamu,
Berkata sendiri disetiap gerak coretannya, bermain peranlah dia ..
Mau Marah ?? Tidak mungkin,
Melihat seriusnya dia menggerakkan tangan dan pena
Melukis apa yang ada di benak polosnya
Teruslah nak ... puaskan dirimu , eksplorasi semua mimpimu ..

Tiga tahun usiamu, tak akan ibu pendam inginmu
Menari, berlari, bernyanyi, meloncat, bergumam, dan segala macam inginmu
Teruslah nak, ibu ada disini disetiap harimu,
Menatap tiap perkembanganmu, dengan doa tulus seorang ibu ...


Bangku tunggu di Bank, dia manipulasi sendiri..oh nooo 


Deee... itu tempat baju jualan bunda...

Bantuin ngepel .. pinterrr
ADA YANG BERANI MARAH AMA COWO GANTENG INI ??? MANA TEGAAAAA

==========
Disertakan dalam Lomba menulis Moms Go Blogging yang diselenggarakan oleh Ayah bunda. Seperti yang ada di my FACEBOOK ... Komen disana dong, biar dapet point gitu.. hehehe 

Amarah dan nada 're' Oct 15, '10 9:19 PM

"Kenapa ibu suka marah marah sama ade? " wadooh perkataan itu bikin kaget banget dan sempet lumayan shock dengarnya. Pertanyaan dari makhluk berumur 3 tahun yang mulai bisa memainkan peran dan memainkan perasaan orang .

"apa maksud ade?"

"iya , ibu kenapa suka marah marahin ade?"

Nah kalo udah kaya gini, berarti dia minta pembenaran, egoisme nya mencuat dan merasa tidak pernah salah, dan yang utama adalah dia ingin memegang kendali
Eitss... emak ga bisa dan ga boleh kalah dong ama anak kecil begini, walau tadi sempet ngerasa bersalah karena udah marahin dia, tapi tetap harus jaga wibawa dan tegas.

Langsung pangku dia, dan bicara dari hati ke hati.. (cieeehhh )

"Siapa yang suka marahin ade?"
"Ibu .."
"kapan ibu marahin ade?"
"kemarin ama tadi pagi, ama semalem"
"Kenapa ibu marahin ade?"
"Ga tau, ibunya sih pengen marah marah aja"   (rrgghh jangan buka rahasia napah)
"Kemarin ibu marah karena apa?"
"Ade mainin cucian ibu"
"Bagus ga tuh?"
"Ga bagus"
"trus kenapa masih dimainin padahal sudah ibu tegur"  (kan udah cape aku nyuci dan keringin, masa mau disiram pake air sabun lagi  )
"Ga tau"
"jadi siapa yang salah?
"ade .."
"kalau salah siapa yang harus minta maaf ?"
"ade "
"jadi ibu salah ga marahin ade? "
"salah ...? "    ==>huaaaa gw masih di salahin aje
"jadi ade maunya ibu gimanain ade?"
"jangan marah2in ade"
"kalo ade salah? "
"dipeluk aja bu "    ==>>  hiks, langsung skak mat nih ...

=======================

Ibu nya langsung intropeksi diri,  ya mungkin kelelahan menyebabkan kadar sabar jadi berkurang, cara menegur yang harusnya bisa lebih bijak jadi terlupakan , ketegasan yang harusnya lebih manis dikeluarkan menjadi erangan amarah yang menusuk perasaan mereka dan dampaknya tentu saja bukan ga mungkin akan membekas dalam lubuk hati terdalam mereka.

Sebetulnya sih udah berusaha keras untuk menerapkan semua teori meredam amarah, tapi pada kenyataannya kan tidak semudah itu, kalau lagi di kejar dengan deretan pekerjaan yang pengennya segera selesai , trus ada aja yang interupsi ini itu, ditegur pelan ga mempan, tegur dua kali masih berlaku sama, dan teguran ketiga sudah tidak bisa lagi memakan nada 're' tapi udah nada ' do tinggi' , terkadang anak anak cuek, tapi tak jarang mereka agak shock dan baru beres.

Terus terang cape juga untuk merayu terus terusan, menggunakan kalimat lembut untuk membenarkan prilaku mereka yang salah ,  yang ada mereka semakin meringankan masalah. Kalimat lembut diteruskan dengan intonasi tegas, tatapan mata memandang lurus kemata mereka, sekali dua kali mempan, selebihnya mereka tetap sulit dikendalikan.

Namun ada satu yang memang aku rasa adalah cara terbijak. Pendekatan dua hati. Lebih lama progress nya , tapi akan berdampak dalam pada diri mereka (insya Allah). Mempertahankan marah dan teriak2 akan tetap membuat mereka ngeyel dengan kemauan mereka, mending lepaskan kegiatan yang sedang kita lakukan, ambil mereka , peluk dan duduk bareng berdua. Tanya baik baik apa masalahnya, dan jangan lupa selalu bilang bahwa kita sayang sekali sama dia.
Berhasil kah ? yaa kadang berhasil, kadang si anak tetap ngambek dan sulit dirayu, kalo udah gini , mending diemin, tegaskan kalau maunya kita begini, ga bisa ditawar..

Ya gitu deh liku2 punya anak, kalo anaknya satu atau dua , pendekatan personal masih bisa rutin dilakukan, nah kaya aku , punya 4 anak, dengan karakter berbeda, pendekatan lebih kepada siapa yang sedang membuat masalah. kalo udah gini, yang ga pernah bikin masalah jadi pengen bikin masalah, supaya bisa dideketin ama emaknya. Nah loh..... aneh kan anak2 gw...

Oke deh children ... mudah2an emak masih sehat dan sadar untuk selalu sabar. Masih diberi kendali terhebat untuk bisa tetap ber-nada "re"  dan memiliki lengan dan dada lebar buat memeluk kalian  (I wish I have dada lebar.. ooppsss)

Menjelang tidur ini, masih aja ada insiden, si bontot ngajak berantem gara2 rebutan laptop ama emaknya. Kali ini emaknya tambleng dan ogah ngalah .. jadi Fadhl tidur sambil manyun... hehehe sorry ya dek, emak mo kerja dulu, mumpung sinyal modem nya bagus  (padahal mo ngempi .. xixixixi)

============
Selamat berakhir pekan, smoga minggu ini adalah minggu yang terbaik bagi semua...

Jatuh (lagi) Oct 14, '10 12:55 PM


Kemarin, untuk kesekian kalinya Fadhl jatuh lagi dengan posisi kepala duluan .. hiks.. Sebetulnya udah biasa dan ga terlalu khawatir selama dia masih sadar, keseimbangan masih bagus, tidak muntah dan berbagai ciri lain yang memang harus dikhawatirkan dikala anak jatuh. Tapi terus terang yang kemarin ini aku ga bisa menghilangkan rasa panik, karena suara dentumannya terdengar sekali dan suara tangisan yang meledak tak tertahankan ditambah besaran benjolan yang aku rasakan sendiri membesar dan membesar dari bagian belakang kepalanya.

Ceritanya kemarin aku sedang merapikan lemari pakaian, dia datang dan langsung naik tempat tidur sambil bilang kalau dia mau liat ibu. Spontan aku langsung bilang supaya dia diam aja, duduk di tempat tidur untuk tunggu ibu. Biasanya aku cuek dan ga pernah ngasih nasehat yang seharusnya dia udah tau itu. Baru saja aku memalingkan wajahku kembali ke lemari, dalam hitungan 2 detik terdengar suara dentuman, keras sekali diiringi  tangisan Fadhl. Astaghfirullah, aku langsung loncat dan menghampiri dia yang jatuh disisi lain tempat tidur. 
Karena dia sadar, aku langsung angkat dan peluk tubuhnya seraya memegang bagian kepalanya yang jatuh tadi, ya dia jatuh dengan bagian belakang tepat sekali menghantam lantai. Seperti kebiasaan ibu ibu lainnya, aku langsung usap bagian yang benjol dengan rambutku, dan saat itu terasa sekali benjolan yang semakin membesar dan membesar. Aku panik, aku menangis sambil teriak ke mamah dan abang . Mamah yang kebetulan sedang nginap di rumah, langsung masuk kamar dan melihat aku yang sedang menangis memeluk Fadhl. 
Langsung aku instruksi ambil es batu, trombophob dan apa aja yang bisa bikin sakitnya reda. Yang lucunya abang malah bawain permen, hehehee.. gapapa lah, akhirnya Fadhl diem juga kok.  Lumayan lama tangisnya reda, aku kembali melihat luka nya, ALhamdulillah tidak berdarah dan perlahan benjolnya mengempis. 
Hari itu aku cukup observasi, sebentar sebentar ngecek temperatur , takut demam, ngecek pup nya, BAK nya, makannya.. Alhamdulillah semua baik baik saja.
Ini benjol , jatuh dari mana yaaa ?

Sebetulnya ini bukan kali pertama, di jahit udah sekali, benjol berkali kali, jontor di bibir, benjol di jidat udah sering banget, tapi jatuh kali ini karena aku lihat sendiri dan mendengar langsung, rasanya suara dentuman dan tangisannya cukup bikin trauma dan stress.  Mudah2an jangan lagi ya dek, ibu ga kuat beneran deh... 
Waktu dulu di jahit

Kita selalu berusaha menjaga , namun kecelakaan sellau ada tanpa bisa kita cegah. Kita hanya mampu menghindari sebisa kita , smoga kita semua terhindar dari hal yang membahayakan.. Sehat terus buat anak2 tercinta dari MPers ... juga MPers nya dong ..

Pengusiran secara manis Sep 24, '10 1:43 PM

Minggu lalu kami (aku, suami dan Fadhl) berkunjung ke Telkom Bogor karena suatu keperluan. Seperti graha telkom lainnya,  selalu disediakan game centre untuk mengisi waktu para konsumen yang bosan nunggu antrian.

Pengunjung ternyata banyak sekali, dan setelah mendapat penjelasan dari bagian informasi, maka keperluan kami akan di handle oleh bagian Flexi home. Suami yang menuju ke bagian itu sedangkan aku membawa fadhl untuk mencari tempat duduk.

Ini memang bukan kali pertama Fadhl ke graha telkom, ja
di dia sudah lumayan familiar dengan kondisi disana. Dengan fasihnya dia langsung menuju tempat game , namun sayangnya kedua terminal yang ada sudah penuh ditempati yang satu oleh seorang anak muda skitar 24 tahunan , sendirian dan sedang serius main game,sedangkan terminal satu lagi yang emang komputernya rusak (dari dulu ga di bener2in) ditempati oleh ibu2 yang lagi ngerumpi bareng tiga temannya. Aku memegang fadhl untuk tetap berdiri saja menunggu ada kursi yang kosong, namun fadhl menarik tanganku sambil teriak mau lihat ikan. Ya sudahlah, aku antar dia ke aquarium yang letaknya berdekatan dengan game centre itu.

Tapi ya namanya Fadhl, kalo tujuannya adalah main 
game, maka dari liat ikan , dia langsung membelokkan badannya dan langsung menuju tempat komputer yang ada anak muda main game itu. Disini perasaan ku udah mulai ga enak, haduh ini anak bakal ngegangguin si om nih. Mau diangkat tapi aku lagi males debat ama Fadhl, jadi aku diemin aja sambil mau tau reaksi si om itu dengan anak anak gimana ya... Aku tetap berdiri di samping akuarium mengamati apa yang akan di lakukan fadhl dan apa reaksi si om itu. Dan kemungkinan teriseng adalah, pura2 ga kenal ama nih bocah kecil kalo ternyata si bocah bikin ulah yang memalukan... hehehehe


Adegan : Fadhl mendekat si Om, merapatkan tubuhnya 
ke om yang lagi asyik main game.
F : Om lagi apa 

Om tetap diam

F : Om, itu ada mainan ikan om, yang ikan aja om => maksudnya main fishing trip , kebetulan di icon komputernya keliatan iconnya.

Om tetap diam

F : Om ga bisa ya main yang ikan yaa.. aku mah bisa , dirumah aku main itu loh om, ihhh om main spongebob ya, aku jg bisa main itu, gampil .... om om pencet balonnya om .. ihhh om payah ... gemover ya om

Om mulai gelisah, bete kali ya score udah gede , konsentrasi pecah ama celotehan si bocah cerewet

F : Om .. ayoo dong main yang ikan, om ga bisa ?  bisa ga om ? om om bisa main ikan ga ? 
==> Fadhl akan terus bertanya sampai dia mendapat jawaban, coba aja kalo om nya jawab, pasti akan ada pertanyaan lanjutan ... hehehe serba salah kan...

F : Yaaa spongebob lagi, bosen ah, eh om ada mainan mejikbol loh om, tuh tuh  (sambil nunjuk2 iconnya)

si Om masih diem, mulai gelisah, duduknya mulai goyang goyang, Fadhl mulai gerecokin mouse yang lagi dipegang si om

F : Om, ade pinjam mos nya, ini klik yang ini om, hayo om

Si Om mungkin dah bertanduk kali ya

Om : bentar ya dek, om lagi main

F : Ohhh om lagi main ya, enakan main ikan om,  seru, om ga bisa ya, om bisa ga ? sini tar ade ajarin  => mulai memanipulasi tempat duduk, pura2 minta pangku dan tangannya mulai megang mouse yang di pegang si om

Om : ini deh .. ade pegang sendiri aja

Dan si Om melenggang pergi ... kalah nih yeeee...

Fadhl : yaaa om nya pergi.. bu, ibu, sini ,  om nya udah pergi, kita main ikan yuk ....