Sabtu, 17 November 2012

Gendong dong ... Nov 25, '11 11:28 AM




Ini si bontot mulai berulah aneh, lagi senang minta gendong, padahal udah gede dan 16kg.
Kadang bangun tidur, langsung ke dapur, nyari emaknya, trus  nyodorin tangannya minta di gendong. Emang ga lama, paling Cuma sekedar dapat pelukan trus di bawa kembali ke kasur sekalian di puk-puk lagi, trus sambil gegulingan lagi deh, nyiumin tubuhnya yang masih bau iler… hehehe mumpung masih kecil dan masih mau dicium, jadi cuek ajah.
Udah dapat dari emaknya, nyari bapaknya, naik ke atas, trus naik ke pangkuan bapaknya yang lagi belajar.  Siapa yang ga terharu kalo pagi-pagi dapat pelukan , tapi ga lama kemudian dia akan minta bapaknya berdiri dan gendong sambil goyang-goyang.
Nanti, saat sedang bermain , kakaknya pun akan kena giliran, adalah  yang si mas di minta jadi kambing supaya dia bisa naikin, kadang minta di pangku ama abang sambil nonton TV, dan tak jarang mba Putri pun kena dimintain gendong saat mba nya baru pulang sekolah.
Senang aja sih, karena dia terlihat sayang kepada kakak2nya, begitupun yang tua , sangat mendengarkan dan mau mengikuti apa kata adeknya. Yaaa kadang sih kalo waktu nya ga pas, permintaan itu akan berakhir dengan berantem atau air mata. Hehehee…
Dan barusan, mas nya kena teriakan si bontot yang sedang berdiri di kursi makan.
“Mas, cepetan sini, gendong aku…. “
Si mas bergerutu, tapi tetap mendekati adiknya ..
“Sini mas gendong, tp Cuma sampe kasur dan mas ga mau lagi, nanti mas pendek kaya ibu … “

Ibu yang lagi di kamar , jadi melotot… loh kok bawa2 fisik seeehhh…. Huhuhuu 

Menuntaskan kewajiban Khitan par 2 - Prosesi Jun 13, '11 3:55 PM

Mumpung juragan lagi asyik nonton dan rada anteng, lanjut nulis ...

Persiapan mental sebetulnya berjalan apa adanya, dia hanya minta di yakinkan bahwa tidak ada sakit seperti saat pengambilan darah kemarin. Yaaa aku sendiri ga brani berbohong, dengan pelan aku ceritakan kembali bahwa sirkumsisi yang akan di lakukan adalah pengambilan sedikit kulit di ujung penis yang saat ini masih tertutup dan kemungkinan menyimpan kuman disana. Pasti akan sakit, namun aku yakinkan bahwa seorang laki-laki harus mampu menahan sakit, mas ghi dan abang ican sudah menjalaninya, jadi semestinya fadhl tidak takut dan mundur dari niatan ini. Done... dia sepertinya mengerti, dan semua berjalan tenang.

Sabtu pagi 11 Juni 2011, kami berangkat ke Jakarta dan sebelumnya mampir untuk beli mainan ala kadarnya untuk mengalihkan perhatiannya saat di khitan. Yang sibuk itu kakak2nya, mas Ghi maksa Fadhl supaya beli gasing, bang ican ngerayu supaya beli mobil2an.. hayyyahh... dan untunglah fadhl tidak terpengaruh, dan dia sekali melihat tools seperti handy many, dia langsung ambil, dan tidak bisa ditunda lagi (hiks pdhal harganya lumayan mehel..... gpp lah).

Jam 12.30 berangkat dari kemanggisan (rumah mamah/neneknya fadhl) menuju markas Sehat di Komplek PWR Ragunan. Ga disangka, perhitungan waktu yang menurutku seharusnya cukup untuk tiba disana jam 2 siang, ternyata salah, Jakarta macet sekali yaaa... huhuhuu , kami baru tiba pukul 2.20, untunglah Dr. Arum baik hati  dan bersedia menunggu (pasien ga sopan nih). 

Wawancara awal tentang kesehatan Fadhl, hasil lab dan perkembangan Fadhl. Dr Arum pun masih ingat saat 3 th lalu mengkhitan Maisaan. hihihi ternyata sudah lama juga kami tidak berkunjung ke markas . Pemeriksaan tinggi dan BB, berhubung emaknya lagi sibuk diskusi ama dokter, sampai ga ngeh itu anak berapa ya BB nya ...hehehehe.. Scara fisik oke, dan lanjut dengan persiapan khitan.

Ruang praktek sudah disiapkan, kami skali lagi menjelaskan bahwa akan di suntik sedikit di penis, lalu akan di lakukan operasi kecil penyunatan, dan dia masih sibuk ama mainan di ruang tunggu, shingga cuma iya iya aja... hehehe

Masuk ruang, buka pakaian bawah, dan berdoa, Fadhl mulai tampak takut karena melihat suntikan, sepertinya dia masih trauma dengan proses ambil darah kemarin itu. Dan benar saja, saat suntikan anastesi masuk, dia kembali tegang, berteriak kesakitan dan heboh. Haduuhh emak mulai stress,  buka stok mainan dan berusaha mengalihkan perhatian dia. Ga mempan, masih teriak, kita ajak ngobrol terus, dan akhirnya diam .
Disitulah baru diketahui bahwa kulit fadhl terlalu tebal, dan sempit di bagian depan, mengingatkan bahwa mungkin ini penyebab selalu ada benjolan saat dia buang air kecil dan kemungkinan Silent ISK mengingat dia sering demam walau berakhir di hari ke 4-5.
Selama demam yang dulu2 kami tidak curiga ISK karena dia tidak sakit saat bak, namun aku terlewat memperhatikan batang penis nya yang membesar setiap dia bak *emak eror.
Jadi, keputusan kami untuk segera mengkhitankan fadhl adalah pilihan yang tepat dan melegakan diriku sendiri.

Terus terang memang aku selalu tidak berani membersihkan kulup / ujung penis anak sejak bayi, selalu dicoba,namun tidak pernah tega untuk membuka dan membersihkan sampai pangkal. Dan untuk Fadhl, beberapa kali aku coba, namun aku kesulitan karena lubang depannya yang terlampau kecil. Jadi ya sudahlah, aku pasrah dan berharap pada khitan ini.

Proses tidak berjalan mulis, karena Fadhl keburu histeris dengan anastesinya, sempat ragu apakah anastesi bekerja dengan baik, karena dia terus menerus teriak. Sempat opsi supaya anastesi diulang , namun dr.Arum meyakinkan bahwa sebetulnya anastesi sudah bekerja, namun anaknya saja yang terlampau histeris.. (aka lebayyyy). 
Disini aku mulai berperan, aku alihkan perhatiannya dengan mulai bercerita, aku keluarkan stok bahan cerita yang biasa kami lakukan, kisah tentang Riku si semut kecil. Aku sendiri kurang konsen karena pikiran bercabang antara melihat proses dan bercerita, namun aku putuskan untuk hanya konsentrasi ke cerita saja, dan memasrahkan proses seutuhnya kepada dokter. 
Fadhl mulai terbawa dalam cerita, walau sesekali dia masih sesegukan, tapi dia menanggapi setiap kalimat yang aku keluarkan. Tersenyum, tertawa, protes dan segala macam tanggapan atas ceritaku yang lama-lama mulai ngaco.Hingga kisah terputus dengan kehadiran dr.Apin yang memecah konsentrasi ceritaku untuk ikut berdiskusi dengn dr.Apin.
Disitu aku tahu ternyata sebetulnya ada pendarahan di posisi 12 (atas) sehingga ditambah jahitan di kanan kirinya. Total jahitan ada 6 , normal ada 3 , tp tidak mengapa yang penting semua beres. 
DI proses akhir itu Fadhl mulai  histeris lagi, mungkin karena imun nya sudah menghilang , di tambah aku yang mengalihkan perhatiannya. Saat aku kembali pada cerita tentang Riku, dia sudah tidak tertarik dan mulai kembali menangis. Pasrah sajalah, yang penting proses sudah selesai.

Keluar ruangan , ternyata sudah banyak pasien yang menunggu, terdengar tepukan dari pasien lain yang mendukung perjuangan fadhl. Setelah aku keluar dari ruangan, ternyata pasien2 itu adalah temen2 juga... (ada Ida mom Riffat n Riffan, Menik mom Haura dan zaydan, dewi, dan rita  ).

Dilanjut dengan diskusi pasca sirkumsisi, kesimpulannya proses berjalan baik, tinggal menunggu apakah ada pendarahan, yang ternyata Alhamdulillah tidak terjadi pendarahan. Dokterpun menjelaskan mengenai treatment pada bagian yang luka, usahakan selalu kering, juga dijelaskan kemungkinan infeksi yang disebabkan adanya kotoran atau bekas BAK yang tidak bersih. Aku hanya berharap, semoga semua akan berjalan baik2 saja seperti kakak2nya dulu.

Selesai ..... kami pulang dengan Fadhl yang sibuk dengan mainannya . 
Sekarang tinggal perawatan pasca khitan, semoga berjalan baik dan fadhl kooperatif..

bersambung lagi insya Allah 

Menuntaskan kewajiban Khitan part 1 Jun 13, '11 3:19 PM

Nyempetin nulis singkat deh, sebelum kelupaan dan hilang momennya. 

Alhamdulillah, akhirnya kami telah selesai sekali lagi menunaikan tugas sebagai orangtua terhadap anak lelakinya, yaitu meng-khitan-kan si bontot Fadhl. Sebetulnya ini melenceng dari jadwal semula, biasanya kami mengkhitan anak-anak pada usia 3 tahun, namun entah mengapa kali ini aku nya sendiri yang timbul keraguan sehingga niat tersebut tertunda hingga 1 tahun. 

Aneh mungkin ya bagi kebanyakan orang melihat keputusan kami untuk mengkhitankan  lelaki kami pada usia dini, kami sendiri tidak memiliki tujuan lain selain memang ingin menuntaskan kewajiban kami, menjadikan anak kami bersih secara fisik dan tidak ada lagi keraguan bagi kami akan kesehatannya. Begitu sederhana kan, namun yang sederhana ini selalu menimbulkan pertanyaan, dan tak jarang justru memberi kesan pada kami bahwa kami adalah orangtua yang tega.

Jujur, beberapa kali tanggapan orang lain itu sempat jadi dasar keragu-raguanku, apakah aku sudah melanggar hak anak, apakah aku terlalu egois dengan membuatnya sakit, apakah tidak ada waktu lain hingga anak siap dan besar. Namun, disatu saat malam aku selalu menatap dia, lelaki kecilku, sekarang atau nanti, kamu akan menjalaninya, sakit yang akan dirasa insya Allah akan berlangsung satu minggu, dan setelah itu selesai , jika kakak2nya berhasil melewatinya dengan baik, maka harusnya aku pun bisa melaksanakan khitan kali ini dengan rasa yang sama, ikhlas, tabah , tidak panik. Dan... keputusan bulat disertai nekat membawa aku pada satu sms kepada dr. Apin, meminta jadwal untuk sirkumsisi. 

Aku pasrah, jika ada tanggapan maka ini akan terlaksana, jika tidak ada jadwal , ya biarkan waktu yang akan mengatur kapan ini akan terlaksana. Tidak disangka, hari selasa 07 Juni, dokter konfirmasi untuk sirkumsisi hari Ahad, 12 juni 2011. Namun karena tempat praktek digunakan untuk klas ASI, jadilah jadwal dimajukan hari sabtu jam 14.00 di Markas Sehat dengan Dr. Arum.

Hari kamis, cek darah untuk PTT (Protrombin Time ) dan aPTT (Partial Tromboplastin Time = waktu pembekuan darah) yaitu untuk cek laju pembekuan darah, disini dimulainya kepanikan. Ternyata sulit sekali menemukan nadi pada tangan Fadhl, berulang ulang dan hal ini cukup membuat dia kesakitan dan takut. Aku hanya berharap dia tidak trauma, dan penjelasan mengenai konsep sakit akan aku ulangi lagi dan lagi sehingga dia siap secara mental untuk di khitan.

Oh ya, satu lagi yang sellau menjadi pertanyaan, mengapa aku memutuskan untuk menggunakan metoda sirkumsisi secara konvensional, mengingat saat ini sudah begitu banyak metoda yang 'katanya' lebih tidak menyakitkan. Apapun itu, aku sudah mempertimbangkan kelemahan dan kebaikannya, dan kami merasa bahwa metoda konvensional tetap menjadi pilihan kami dengan resiko yang sudah kami pahami.  Secara singkatnya, metoda cauter tdk kami ambil, karena resiko terbakarnya jaringan dalam yang sulit untuk dipantau, disamping itu, pembengkakan pasca cauter seperti nya lebih menyeramkan, dan yang jelas, aku ga kuat nyium bau kebakar dari pisau cauter itu .. hehehe.
Metoda Smartklamp tdk aku ambil karena aku tidak bisa memprediksi apakah ring atau klamp nya sesuai dengan ukuran penis anakku. Ya pada kesimpulannya , kami merasa bahwa metoda konvensional tetap menjadi pilihan kami. Untuk metoda sirkumsisi pernah di bahas oleh Dr. Ian di SINI .

Semua beres, hari Kamis sore, hasil Lab sudah ada,  nilai PTT Fadhl di bawah standar, namun aPTT normal. Setelah konfirmasi dengan dokter cantik, kesimpulannya tidak mengapa nilai PTT di bawah standar, krn artinya darahnya membeku lebih cepat , yang berbahaya jika nilai PTT nya diatas standar/normal, yang artinya pembekuan darahnya lebih lama. Konfirmasi ke dr. Apin dan dr.Arum, akhirnya ACC untuk sirkumsisi Sabtu. Fiuhhhh tinggal menyiapkan mental aku dan sedikit diskusi dengan fadhl mengenai apa yang akan terjadi pada dirinya.

Sebetulnya keinginan khitan ini pun sudah ada dari diri Fadhl sejak lama, kami sudah menjelaskan mengapa seorang lelaki wajib di khitan, dari sisi agama dan kesehatan, dia setuju untuk dikhitan dengan sedikit campur tangan kakak2nya yang sudah menjalaninya. Yang sibuk memang Ghi dan Ican, saling manas-manasi dengan bilang bahwa kalau di sunat akan punya hadiah banyak, nanti bentuknya akan bagus, daya pancar saat BAK akan keren.. (haddoohhh pembicaraan laki2 lah). Entah dia mengerti atau tidak, tapi yang jelas dia memang sudah ingin di khitan. Ya sudahlah,makin cepat makin baik, karena itu kami tidak berusaha menutupi bahwa proses khitan akan melibatkan suntikan, gunting dan akan ada darah di penis nya. Skali lagi, iming2 mainan membuatnya tidak mempedulikan itu semua, padahal aku sendiri tidak pernah menjanjikan sesuatu, tapi ya sudahlah....

Persiapan untuk khitan sebetulnya tidak ada sama sekali, kecuali tiap malam aku pandangi wajahnya, dan berkata, you're gonna be a man ...

bersambung.... 
ngelayanin juragan sunat dulu yak

Mengajarkan konsep Berbagi May 6, '11 10:15 AM


"Bu, aku rasa, aku ingin berbagi.... ibu boleh kok cicip kue ade, ade ga akan marah kok, beneran.. kan ade udah mengerti dengan berbagi"

oo000oo

Mengajarkan konsep berbagi ternyata bukan hal mudah, untuk tahapan umur Fadhl yang akan menginjak 4 tahun, dia sedang dalam tahap ego. Susah sekali membuat dia mau berbagi sesuatu dengan saudara atau ibu bapaknya. Walau cerminan perilaku sudah diterapkan, namun sepertinya  tahapan ini tetap harus dilalui dia. Sadar sekali saya tentang hal ini, karena itu kami berusaha membuat dia menjalaninya dengan apa adanya, sementara kami semua tetap berusaha konsisten memberi pengarahan tentang konsep berbagi.

Ingin memiliki sendiri ini, berlaku untuk makanan, mainan, kasih sayang ataupun channel televisi. Semuanya ingin dikuasai sendiri olehnya, beruntung bahwa kakak2nya sudah mengerti dan lebih mengalah, walau tetap menyerah dan sedikit membentak jika si adek kelewatan pelitnya. Nah kalau sudah begini, emak harus turun tangan, angkat si adek, dan mulai kembali mengingatkan tentang konsep berbagi. Yaaaa terkadang mempan, namun tidak jarang berakhir dengan ngambek dan marah ga karuan. Bila sudah dalam kondisi seperti ini, emak tidak bisa membela dia lagi, terpaksa memberi hukuman.

Kadang dia curang, untuk makanan misalnya, sudah diberi masing-masing jatahnya, dia makan begitu cepat, sedangkan kakak2nya makan terkadang tukar2an dan saling menikmati, hasilnya, dia  lebih cepat habis dan marah karena dia merasa tidak mendapatkan makanan yang sama dengan kakak2nya. Jadilah dia merayu kakaknya untuk sedikit memberi dengan tatapan memelas dan mengkondisikan bahwa dialah satu2nya yang sedang tidak makan camilan. Taktik yang curang yaaaa...

Begitupun saat dia ingin menguasai emaknya, padahal semenjak pagi emaknya adalah hak otoritas dia, belajar bersama, main bersama, melakukan kegiatan berdua, tidur, ketawa2,  ya udahlah, emaknya total punya dia. Wajar dong kalau saat kakak2nya pulang sekolah juga pengen diladeni oleh emaknya, pengen gelendotan, becanda2 dll . Nah ini tetap ga boleh, emaknya hanya punya dia, jelas aja yang lain komplen, dan emaknya jg ga mau ikutin dia dong. Biasanya berakhir dengan dia marah dan cemebrut ke emaknya. Sebodo..  biasanya kami acuhkan seraya mengingatkan bahwa emak adalah milik bersama. 

Beberapa hari ini ego nya dia sedang memuncak, karena itu kami semua sepakat untuk sering meneriakkan kata "BERBAGI !!!" , kami jadikan itu slogan kebersamaan, sehingga dia selalu ingat bahwa dia tidak bisa memiliki seusatu sendiri, tetapi harus berbagi. 
Berhasilkah ???
Hmmm kadang ya, kadang tidak, masih angot-angotan. Masih memaklumi dengan pembatasan yang tegas. 

Terakhir adalah kemarin, saat sore sepulang sekolah, sebetulnya adalah jatah Mas Ghi untuk nonton bola (LPI or ISL lah), itu sudah kesepakatan. Dengan egois, Fadhl tetap memegang remote dan melarang mas nya nonton bola. Sebentar mas nya ngalah dan bersedia nonton kartun, tapi karena dia bosan dan merasa ini adalah jatahnya dia, mas mulai marah. Emak mulai bertindak, angkat ade, dan menyerahkan remote ke mas. Ade marah dan mulai lagi dengan mukul2 emak. Mulai beradu tatapan, dia dengan muka ngambek, mata melotot, nafas mendesuh (hihihi apa ya namanya, ekspresi marah lah), emak memegang bahunya, berusaha  tetap menatap matanya serata terus mengucapkan ibu sayang ade , dan ade harus ingat konsep berbagi. 
Dia masuk kamar, banting2 bantal guling (padahal sudah lama dia tidak begini), mulai lagi pendekatan, tidak mempan, 10 menit masih begitu, enough.... Angkat ade, taruh di ayunan teras belakang tempat 'time out'  buat dia. 
"Bila ade sudah tenang dan paham akan kesalahan ade, baru ade boleh masuk rumah, hampiri ibu dan peluk ibu. Mengerti ?? " 
No respon pastinyaaa... dia tetap cemberut di ayunannya dan emak tutup pintu belakang , dan melanjutkan kegiatan.

Tidak sampai 5 menit, dia muncul bukan dari pintu belakang, tapi dari pintu samping tempat working area (area cuci strika), dengan senyum 'geleuh' nyamperin emak sambil memeluk seakan tidak pernah ada kejadian heboh sebelumnya.. hmmmmm anak-anak.... this is your world, with your act, with your heart.

Pelajaran kami tentang konsep berbagi mungkin masih panjang, tapi kami terus berharap, apa yang kami tanamkan akan dapat terpatri indah dalam pikirannya, bahwa kita sebagai manusia yang hidup bersama , tidak bisa hanya mengedepankan kemauan kita sendiri. Ada sesuatu yang  harus dibagi kepada orang lain;  ilmu, harta, pengalaman, kemampuan, tenaga dan apapun yang kita bisa, tentu saja berbagi kebaikan ya, karena yang buruk mah sebaiknya di buang aja, tidak usah di bagi2. :) . 
KIta hidup tidak abadi, kepada siapa kita akan meminta pertolongan dunia kecuali kepada mereka yang baik kepada kita. Dan untuk itu kita pun wajib menjadi orang  baik, dengan selalu mengingat tentang konsep berbagi ....


=====
Sayang foto waktu dia ngambek ga ada euy, pdhal pernah moto wkt dia kena hukuman 'time out' tapi dicari ga ketemu .. hihihi

Bogor, 06 Mei 2011
Masih dalam kondisi Gastritis parah  :

Berasa Kembar Apr 30, '11 10:39 AM

Semalam tidur sambil mandangin si bontot, liat penampakannya yang udah mulai besar, jari-jari yang dulu sangat mungkin erat menggenggam jariku, mulutnya terbuka sedikit dengan suara lembut mengalir dari dirinya. Tidak bosan rasanya menatap wajah tanpa dosa yang walaupun kalau siang suka nyebelin, suka bikin emosi, suka bikin tanduk maksa keluar, tapi dimalam hari disaat jiwanya melayang melepaskan penat menari di udara bebas, dia tampak begitu mempesona, polos, dan tiada ada jejak kehebohan yang dibuat sehari tadi.

Setelah melahirkan tiga anak sebelumnya, akhirnya Alhamdulillah Fadhl bisa mewakili parasku. Bosen juga tiap lahiran selalu di bilang ehhh anaknya kaya bapaknya , dari Putri, Ghifari, sampai Maisaan, istilahnya sih, emaknya cuma buat tempat hamil, tapi cetakan dan hasilnya bener2 saham dan stempel bapake. huhuhu.... Makanya, pas lahiran Fadhl, berasa plong.. akhirnya ada yang mewakili emaknya, dari muka sampe golongan darah. Fiuuhhhhh....


Eh ini mah bahasan nyantai aja ya, jangan dibawa serius, toh semua emang anakku, dan ga ada perbedaan apa-apa dari kasih sayang dan cinta, wong mereka juga sama2 lahir dari perut ku kok, cuma pas iseng gini, suka senyum aja dan sedikit lega , akhirnyaaaaa ada juga anak yang mirip emaknya :)

Kemiripan kita nih ya, dari bentuk muka yang oval, hidung yang 'rada' pesek, jidat jenong, lesung pipi dikit , trus ada tai lalat di pangkal tangan dan di telapak tangan. Hebat kan.... makanya sama si babe suka dibilang kembar, apalagi kita tuh nempeeeellll terus, secara Fadhl emang anak ASIX dan lebih lama nemploknya daripada anak-anak lain, jadilah kata babenya, semakin menular deh kembarannya :)

Cuma memang sifat mah tidak bisa di atur ya, ternyata Fadhl tidak menuruni kekaleman-ku, dia super duper cerewet, ga bisa diem, kritis abis, pokoke beda jauh dari emaknya. Biar gimanapun, ya emang udah begitu maunya, ya sudahlah terima aja, mungkin bagian yang ini adalah turunan bapaknya.. *ngeles.

Kelakukan sih yaaa dikit-dikit samalah, kalo malem hobinya di urut, si emak ngurut kaki nya yang linu terus, si adek pun ikutan minta jatah di urut karena memang kebiasaan dari bayi selalu diurut ama emaknya. Jadi kalau malam-malam sebelum tidur, kita berdua selonjoran, balur kaki pakai minyak beruang/minyak tawon dan mulai mengurut kaki... hahahhaa tue bener dah .

Aku dan Fadhl Mar 1, '11 2:35 PM

Baru sempat buka Laptop, setelah berhari-hari malasnya minta ampun termasuk gangguan dari si bontot yang ga mau lepas dari pangkuan. Pangkuan ? ya, si bontot yang dah 3,5 th itu akhir-akhir ini apalagi setelah kami canangkan untuk meng-home-schoolingkan dia, semakin nempel sama emak-nya. Seneng sih, tapi bener bener deh, hari-hariku makin tigh, ga bisa ngapa-ngapain yang me time.

Rrrr sebetulnya sih ga nempel amat, karena dia mengerti kapan ibunya harus dinas jadi bibik, dia akan anteng dan main sendiri, atau sesekali nemanin si bibik sibuk di belakang atau di dapur, nah yang agak susah itu kalau aku rada ngaso dikit, baru aja duduk anteng di kursi kesayangan, langsung deh dia nempel, gelendotan, cium2an, meluk2. Pengen marah ? ya ga bisalah, kalo sebentar-sebentar dia ngomong 'bu, ade sayaanggg sama ibu'  langsung leleh deh rasa cape dan bete. 

Memang keseharianku lebih banyak bersama Fadhl, sejak bangun tidur sampai tidur lagi, kami nyaris ga pernah lepas pandangan. Pagi kala semua kakak-nya sibuk menyiapkan untuk sekolah, dia sibuk juga nemani aku di dapur atau sekedar cerewet nanya ini itu. Saat kakak-nya pergi diantar suami ke sekolah, kadang dia ikut, tapi tak jarang dia memilih dirumah saja nemani aku , padahal kan, kalo dia ikut pergi sama bapaknya, aku rada tenang dan bisa lebih gesit brak bruk di rumah. Tapi ya sudahlah, dia asyik nonton DVD, dan aku sibuk di belakang

Biasanya setelah selesai beberes rumah, barulah kami, aku dan Fadhl duduk berdua di ruang tengah, dia mulai gelendotan lagi, kadang ambil buku, minta bacain , atau minta aku mengajaknya bermain apa saja. Sekalian pula aku memulai program HS nya, walau tidak berkurikulum, tapi aku hanya lebih menekankan arti suatu kegiatan sehingga apa yang dilaluinya bisa dimengerti oleh dia makna dan artinya.

Permainan dan kegiatan sederhana yang biasanya hanya dilakukan sekedarnya, sekarang mulai aku terangkan dengan lebih detail, misalnya mengenai anggota tubuh, dia sebetulnya sudah mengerti mana tangan, jari, kepala dsb, namun saat ini aku lebih menjelaskan kepada fungsi, makna dan kegunaan dari anggota tubuh itu . Atau mengenai konsep ciptaan, sambil berjalan, kami mencerna mengenai ini ciptaan siapa, ini buatan siapa, dan Alhamdulillah dia mulai mengerti, apa yang buatan makhluk, dan apa yang buatan Allah.

Aku belajar untuk konsisten menerapkan pemberian makna atas setiap kejadian, walau masih sangat buta akan kurikulum dan cara kerja HS yang sebenarnya, tapi aku mau menerapkan sesuai dengan langkahku, berjalan apa adanya, mencari minat yang diinginkan oleh dia.  Dan untuk itu, ada yang harus aku korbankan, yaitu sedikit hobiku untuk blogwalking atau menulis.

Ya, kegiatan menulisku sungguh tidak produktif , buka lapto-pun hanya bisa tengah malam, dan dikala itu sudah tidak ada nafsu buat menuangkan ide di kepala, yang ada , aku hanya bisa eksis di Twitter, tertawa atas celoteh singkat para sahabat, sesekali bertindak gila atau terkadang lebay... Ya, sedikit hiburan di keseharian yang begitu padat.

No Problem honey... perkembanganmu lebih berarti dari sekedar hobby ibu, tapi ibu akan mencoba lebih menata waktu sehingga jari ibu tidak kaku, aliran ide tidak buntu, dan semangat akan terus terpacu. Seharusnya bisa seiring, bersamamu berjalan dengan belajar, dan bersama kehidupan ibu, menuang apa yang tersimpan.

Apa kabar sahabat MP ku, aku berusaha tetap berkunjung walau tidak bisa konsisten, karena aku hanya bisa mencuri waktu dikala dia tertidur, atau dikala dia sedang sibuk dengan permainan mandirinya. Tapi deep iniside me.. aku selalu mendoakan kebaikan, kesehatan, kebahagiaan untuk semua sahabat ku disini dan dimanapun.  Love you All ...

==oo000oo==

Kisah Sekolah Rumah-nya Fadhl ada di http://FadhlAlbani.blogspot.com 

Berdamai atau bertengkar Jan 13, '11 12:03 AM

Menghabiskan waktu bersama di kecil, terkadang membutuhkan taktik dan cara jitu agar kehidupan berjalan damai dan aman. Sejak aku memutuskan berhenti bekerja, dan akhir-akhir ini kembali meluruskan niatku untuk anak-anak, maka nyaris seluruh waktuku memang bersama mereka, dan terutama adalah si bontot.

Sementara kakak-kakaknya sekolah, maka otomatis di rumah hanya ada dan dia , bocah 3,5 tahun yang Alhamdulillah diberi daya bicara yang ramai dan tingkat kritisi yang tinggi.  Menghadapi anak sejenis Fadhl, hmm susah-susah gampang, tapi sebagai ibu, ya tentu saja insting untuk menguasai anak bisa dilakukan dengan menurunkan tingkat emosi dan meningkatkan rasa sabar.

Sebetulnya, kalau mau dibuat kesal ya kadang kesal juga, ada kalanya dia tidak bisa diajak kompromi untuk sekedar mengijinkan aku ke kamar mandi, maunya nempeeeellll terus. Dan kalau kondisi ku sedang ga mood, ya bawaannya kesal dan cuekin dia, berakhir dengan tangisan dan aku yang mencoba nutup telinga. 
Namun ada kalanya pula, dia bersikap sangat manis, dan mengerti daftar pekerjaan yang harus aku kerjakan, dia akan bermain dengan mainan ala kadarnya , tanpa teriak, tanpa ikut campur, dan dunia berjalan sangat amat damai. Kalau udah begini, wah seneng banget, aku bisa lebih cepat menyelesaikan pekerjaan rumah.

Negosiasi, kadang pula harus dilakukan, tatkala aku harus segera menyelesaikan pekerjaan, sementara dia tidak mau bermain sendiri. Bicara dari hati ke hati, menerangkan bahwa ibu harus ini itu, dia masih ngeyel mau ama ibunya, lalu ibu nya menawarkan alternatif kegiatan yang bisa dia lakukan, lalu dia berfikir, dan akhirnya selesai... ibu bisa kerja, dan dia main ...

Nah yang sering sih, pertama dia akan anteng bermain, lalu ditengah pekerjaan kita, dia menghampiri dan mulai bertingkah seolah mencari perhatian. Kondisi badan yang lelah, diburu oleh harus menyelesaikan segera untuk berlanjut ke pekerjaan berikutnya, ditambah dengan kehadiran si kecil dengan beragam tingkahnya, cukup dan sangat memancing emosi. Kegiatan yang biasanya bisa dilakukan sendiri oleh dia, tiba-tiba harus kita yang melakukannya, sementara tangan kita bersimbah busa, atau berbau bawang, mau marah ? sepertinya itu jalan singkat ...namun ternyata itu tidak juga menjadi penyelesaian masalah.

Lihat saja kondisi ini, aku sedang sibuk mencuci, lantai belakang penuh air dan busa, tiba-tiba si kecil datang hanya untuk sekedar minta aku dibukakan tutup kaleng makanan, oke dibantu... lalu aku suruh kembali dia kedalam untuk bermain lagi. Tidak lama, dia kembali lagi, minta ini, minta itu, mau pipis, mau pup, mau minum, sementara aku cape juga untuk bolak balik ke dalam dan melayani permintaan dia yang sebetulnya bisa dilakukan sendiri. 
Jujur, tidak jarang aku akhirnya berteriak, menginstruksikan sesuatu dengan tujuan supaya dia tidak kebelakang dan menggerecokiku, namun kembali dan kembali dia bertingkah untuk sekedar kembali memancing emosiku.

Lalu aku berpikir, jika aku layani dengan marah, dan akhinya bertengkar dan akan ditutupi dengan tangisan,  hal ini tidak akan menyelesaikan masalah, hanya akan menambah lembar kekesalan anak kepada ibunya.Aku sadar, yang dicari dia adalah perhatian, dan melawan tingkahnya dengan penolakan akan tetap memakan waktu. Akhirnya, aku stop smua kegiatan, aku peluk dia, dan aku masuk kedalam, berganti pakaian, dan menemani dia sejenak dengan apa maunya dia. Ya, aku memilih berdamai dengan dia.

cara ini aku rasa lebih  efektif, dunia terasa aman, walau pekerjaanku jadi terbengkalai. Aku bereskan semua kemauan dia, lalu aku tenangkan dia, bicara dari hati ke hati, memberinya kegiatan dan permainan bersama, unutk kemudian, aku kembali meminta ijin darinya untuk kembali bekerja. Dan dia akan dengan senang hati mengijinkan, tanpa penolakan dan tanpa kekesalan. Amannn....

Amarah dan kekesalan tidak akan menyelesaikan masalah, anak hanya akan bertambah kesal, karena pada dasarnya yang mereka butuhkan hanyalah perhatian. Kemana dirimu condong , ke cucian atau kepada dirinya. Jika lebih memilih pekerjaan dan akan beragumen keras kepada anak, maka kekecewaan yang akan di dapatnya, dia tetap tidak akan menerima, tetap akan bertingkah, terus membuat kekesalan ibu akan terus dan terus yang tidak jarang berakhir pada pertengkaran dan teriakan. 
Namun jika dirimu memilih untuk berdamai, mereka akan memperoleh rasa percaya, mereka yakin bahwa ibu nya masih memikirkannya, menempatkan dirinya pada posisi yang penting dan bukan hanya sekedar instruksi dan argumentasi. Nilai cinta yang akan dirimu dapatkan.

Kehidupan mengurus, selalu beraneka, dan disetiap aneka itu, kita tetap harus belajar dan belajar, mencari yang terbaik untuk nya dan untuk kita.. tanpa menyakiti, mencoba menjalin tali kepercayaan dan kedamaian ....

Selamat berpetualang bersama anak2 anda....